Akal Untuk Manusia


Manusia itu sejenis hewan juga, tetapi Tuhan memberikan kelebihan dengan akal. Kepada akal itulah bersandar segala perkara yang wajib dia lakukan atau wajib dia tinggalkan. Adapun jenis hewan lain, yang dirasainya hanyalah semata-mata kelezatan perasaan kasar. Dikerjarnya kelezatan itu dengan tidak menimbang dan memikir lebih dahulu. Sedang bagi manusia, akal itulah yang menjadi penjaganya dan yang menguasainya. Meskipun suatu perkara dipandang lezat untuk badannya, belum tentu dia mau mengerjakan kalau belum mendapatkan persetujuan dari akalnya. Bila melihat harta orang lain yang amat bagus, akalnya melarang mengambil dan mengganggu hak orang itu. Bila dia ingin kepada seorang perumpuan cantik, tetapi lantaran menurut pertimbangan akalnya, mendekati perempuan itu kalau tidak dengan jalannya akan menjatuhkan martabatnya, maka rasa lezat yang diingininya itu ditahannya saja. Dia tidak mau hilang hijab malu pada dirinya. Kecuali orang yang akalnya lemah dan nafsunya serta syahwatnya lebih kuat, yang telah tuli telinganya daripada mendengar seruan batin dan akalnya. Orang yang begini mudahlah terperosok dan mudahlah memikul malu.

Dengan adanya rasa malu pada orang yang berakal, terbukti bahwasanya memperturutkan kelezatan badan itu tidaklah mendatangkan keuntungan bagi manusia. Insan yang kamil, manusia yang hendak meningkatkan kesempurnaan selalu memandang hina akan perkara yang memang pantas dihinakan dan selalu pula memuliakan barang yang patut dimuliakan, yang patut ditimbang, yang patut dimalui. Baginya makan untuk melengkapi hidup, bukan hendak memuaskan nafsu belaka.
Dengan akal itulah manusia dapat memikirkan besar nikmat yang diterimanya dari Tuhan, nikmat kemuliaan dan ketinggian yang tiada ternilai, sehingga dia terlepas daripada kehinaan. Dengan akal itulah jenis manusia dilebihkan daripada jenis yang lain. Akal tiap orang itu berbeda-beda pula sebagaimana berbeda-beda badan kasarnya satu sama lain. Berlainan warna kulitnya, berlainan bentuk badannya. Lantaran akal itu berlainan pula keinginan, tujuan hidup, pertimbangan dan perasaan, berlainan pula garis yang dilalui masing-masing. Semuanya buat mencukupi hidup.
Tetapi lantaran bukan akal saja yang dianugerahkan Allah, bahkan disamping itu ada pula nafsu – sebaba manusia termasuk jenis binatang pula, maka tidaklah kita terlepas daripada garis sebagaimana manusia – tidaklah ia lepas dari kesalahan, keteledoran, kesilapan dan kegagalan. Sebab itu kita tidak boleh memaksa diri di atas dari kesanggupan manusia, atau mendakwakan barang yang sebenarnya tidak ada pada kesanggupan kita. Kita hanya menjaga langkah, mengawasi dan menimbang.
Sebagaimana terpandang hina dan terpencil dari masyarakat orang yang meningalkan bahasa ibunya atau bahasa tanah airnya yang dengan dia lidahnya lebih sanggup menerangkan segala perasaan hatinya, lalu meminjam bahasa dan logat orang lain semata-mata untuk bermegah-megah, maka lebih terpandang hina lagi manusia yang melebihi kekuatan dan kesanggupannya, atau memilih yang sebenarnya bukan pakaiannya.

Akal menyuruh manusia menjaga dirinya dan mengatur peri kehidupannya, jangan meniru orang lain sebelum dipikirkan apakah yang ditiru itu cocok dengan dirinya. Yang lebih utama lagi menurut akal ialah memperbaiki mana yang telah rusak. Seorang bintang film, seorang pemain sandiwara, berkali-kali mengadakan latihan untuk menyesuaikan dirinya dengan lakon yang akan dijalankannya; maka kita seluruh manusia ini lebih berhak melaith diri kita supaya menjalankan lakon yang akan kita jalani pula di dalam lakon hidup dan sandiwara kehidupan ini.
Ekonomi ada orangnya, perniagaan ada orangnya, ulama ada orangnya, kesenian ada orangnya, pedang panjang di lapangan perang ada pahlawannya, pedang kecil di lapangan kertas yang bernama pena ada pula panglimanya, semuanya bukanlah perkara mudah. Semuanya harus menempuh perjuangan ada percobaan. Siapa awas teruslah meaju dan menang, tetapi ada pula yang jatuh lalu tegak, dan jatuh lagi, tetapi tegak pula kembali. Kejatuhan pertama dijadikannya pelajaran untuk menempuh kesulitan yang kedua. Ada pula yang jatuh tapi tak bangun lagi selama-lamanya. Perjuangan demikian tidak ada pada binatang, hanyalah pada manusia dan itulah kekuatan yang mereka rasai.
Selain ihwal manusia yang umum atau yang khusus itu, ada lagi hal yang ketiga, nasib yang laksana jalan terentang yang akan dilalui dan cara mereka  melaluinya. Maka mahkota dan mahligai, pangkat dan kehormatan, kekayaan atau kemiskinan, dan yang lain sebagainya. Hanyalah barang pinjaman yang tak kekal adanya. Berganti-ganti datangnya sebagaimana pergantian hari, tidak ada yang dapat menangkap kakinya. Tetapi yang tidak akan terpisah dari pada manusia, yang ditanggung tidak akan meninggalkan manusia atau ditinggalkan, ialah sifat batin dan kekayaan batin. Walaupun uang pergi dan dating, pangkat naik atau jatuh, namun kekayaan jiwa itu tidaklah akan meninggalkan diri. Umpamanya ialah ilmu, hikmah, budi, bahasa, insaf dan sadar.
Ranting mewarisi dahan, dahan mempusakai pohon, akan tetapi ada pula buah yang terbit dari jambu cangkokan lebih sedap dari buah jambu asalnya. Dengan jalan lain, pernah juga jalan yang dilalui anak tidak sama dengan jalan yang dilalui di ayah dahulunya. Semuanya itu terjadi karena perbedaan kesanggupan, tegasnya perbedaan akal. Sebaliknya lagi, bila kelihatan berkumpul orang jahat pada durjana, maka mata orang akan dapat juga meperbedakan mana penjahat yang usulnya jahat dan mana penjahat yang ada juga mempunyai asal usul baik. Semuanya ini harus kita perhatikan untuk memperbedakan kekuatan akal manusia.
Maka sebelum kita maju dalam menentukan tujuan hidup, hendaklah kita pandai memilih mana yang cocok buat diri, jangan mana yang disukai saja. Anak muda kerapkali tidak insaf akan hal ini, karena darahnya masih muda dan panas. Ada anak muda melihat orang lain senang makan gaji, dia hendak makan gaji pula, padahal yang lebih cocok dengan dia bukan makan gaji, tetapi berniaga. Ada pula yang melihat orang jadi wartawan atau pengarang, dia hendak jadi wartawan atau pengarang pula, padahal yang lebih sesuai dengan dirinya jika ia jadi petani. Ada pula pemuda yang hendak dibentuk dengan ayahnya menurut maunya saja, mau menurut kelayakan yang cocok dengan anak itu, ada pula yang karena pengaruh orang lain hilang timbangannya.
Tetapi ada lagi golongan ketiga yang mempelajari pekerjaan sebelum ditempuhnya, menimbang sebelum berjalan dengan kemerdekaan pendapat dan akal, memakai pakaian yang sesuai dengan tubuhnya. Inilah yang paling benar, tetapi ini pula yang sulit.

Jakarta, 9 September 2014. 1:04 AM
LihatTutupKomentar