MASYRABEAH, Jendela Indah Serba Guna


Teman-teman yang berkunjung atau bahkan menetap di negara Arab pasti pernah melihat satu jendela yang diukir indah, dicat warna khas coklat dengan lobang-lobang kecil sejenis anyaman. 

Saya sendiri sudah lama tinggal di negara Arab tetapi melihat bentuk jendela seperti itu baru sebatas “itu khas Arab”, tetapi belum pernah berfikir kenapa bentuk jendelanya seperti itu, atau bahkan saya juga pernah berfikir bahwa itu bukan jendela, tetapi sekedar hiasan untuk mempercantik model rumah mereka.

Berbagai model jendela semacam itu memiliki peran yang sangat signifikan di dalam mempercantik rumah, dia bukan sekedar jendela yang mengatur pencahayaan rumah atau penyinaran ruangan, tetapi dapat mengubah rumah sederhana menjadi berkelas dan tampak anggun. 

Jendela model itu dinamakan “Masyrabeyah”, sebuah nama yang mungkin jauh dari arti jendela itu sendiri. Kata Masyrabeah berasal dari “Syariba” yang berarti minum, “masyrab” artinya tempat minum. Setelah mendengar dari sana-sini, ternyata masyrabeah dulunya memang lebih dominan untuk menyimpan tempat minum, daripada menyimpan air mata, (??) nggak nyambung ya?. 
Jendela kok tempat minum? 

Iya… kenapa emang?

kok?... apa hubungannya?

Begini. Konon, seni ukir yang berbentuk masyrabeyah ini mulai dikenal orang sejak zaman Abbaseah atau sekitar abad 13 Masehi. Saat itu, model rumah dengan jendela masyrabeah menjadi trend dan sangat diminati warga di negara-negara Arab yang umumnya negara padang pasir dan panas suhunya sangat tinggi di musim panas. 

Karena perkembangan model rumah yang begitu cepat dari waktu ke waktu, maka masyrabeah sebagai ornament dan sekaligus hiasan rumah tidak diketahui secara pasti kapan dan oleh siapa ditemukan. Yang jelas, pada zaman khilafah Abbaseah itu sudah ngetrend. 

Bentuk, model, jenis kayu dan keindahan ukiran masyrabeah ini terus berkembang semakin cantik dan indah, dan puncak keemasan seni indah masyarabeah ini –oleh para pemerhati seni ukir dan arsitektur rumah- diperkirakan terjadi di masa khilafah Usmaniah yaitu antara tahun-tahun 1517-1805M. 

Tunggu... Lalu apa hubungannya model jendela itu dengan tempat minum yang akhirnya dinamai “masyrabeah”? He he ngga sabar ingin segera tahu jawabannya ya..

Di negara-negara Arab masa itu, dan tentu saja masa-masa sebelumnya, belum ada lemari es yang bisa mendinginkan air, atau dispenser seperti yang ada saat ini kita nikmati. Sementara, bagi mereka, air dingin adalah dambaan setiap yang kehausan di musim panas. Dengan kegersangan dan rasa dahaga yang berkelanjutan, muncullah sebuah inovasi, bagaimana agar air putih bisa dingin dan segar. Salah satu inovasi mereka adalah mendinginkan air dengan cara menyimpan kendi-kendi wadah air di tempat terbuka agar mendapat tiupan angin segar, dan air dalam kendipun menjadi dingin dan segar. 
Apa itu terbukti? Jelas terbukti… nggak percaya? Lihat saja di beberapa kawasan di Cairo, masih banyak tempat-tempat air terbuat dari tanah (sejenis kendi) yang disimpan di pinggir jalan penuh dengan air segar. Air itu disediakan untuk para pejalan yang melintas dan sedang kehausan, mereka minum dari satu kendi ramai-ramai. Dan ternyata di negara kitapun, di zaman revolusi industry 4.0 ini, masih banyak yang lebih suka minum air kendi daripada air miniral dari lemari es…. Lebih orisinil dan masih ashli pakai shad.
Inovasi berikutnya… 
Dari pengamatan mereka saat itu, tempat terbuka yang dipakai untuk menyimpan kendi-kendi tersebut ternyata kurang aman, karena kadangkala kendi-kendi di sana tidak jarang disambangi burung atau kejatuhan dedaunan dan debu, itung-itung mendapatkan air segar dari kendi, malah minum air campur debu dan dedaunan... kasihan..

Jendela “ala” masyrabeyah kemudian mulai dilirik sebagai alternative untuk menyimpan kendi berisi air putih. Jendela itu berlubang kecil-kecil, tentu saja angin yang berhembus akan menembus udara dengan leluasa dan mendinginkan yang berada di belakangnya. Jendeal yang terukir indah ini lalu menginspirasi warga bahwa angin yang keluar masuk melalui jendela itu tidak terhambat oleh pintu jendela, dan lubang-lubang kecilnya bisa menahan burung untuk menghampiri kendi dan dedaunan yang tertiup angina, ruang dibalik jendela tersebut pasti aman untuk menyimpan kendi yang memerlukan keamanan dan angina segar. 

Di balik jendela itu lalu mereka mulai meletakkan kendi di malam hari untuk mendapatkan air putih segar di pagi hari. Menempatkannya pagi hari untuk mendapatkan air segar di siang hari, dan seterusnya. Kendi-kendi yang ditempatkan di jendela itu ternyata benar-benar aman, bersih dan dingin karena mendapatkan angin yang segar di musim panas yang berdampak pada segarnya air kendi.. maka jendela model itu kemudian –menurut satu versi- dinamakan “masyrabeah”.

Pertanyaannya kemudian, apakah Cuma itu manfaat masyrabeah? Apakah hanya untuk mendinginkan air segar saja?

Oh tentu tidak..

Masyrabeyah sering dipasang menghadap ke jalan atau ke taman, bahkan ada yang dipasang dari kamar menghadap ruang tamu terbuka di rumah yang besar ala rumah Arab zaman itu.

Dari balik masyrabeah, orang bisa dengan leluasa menikmati pemandangan orang lalu lalang di jalan tanpa harus terlihat dari luar. 

Di balik masyrabeah orang bisa bercengkrama sambil menikmati tiupan angin sepoi dan menyaksikan keindahan taman tanpa harus keluar rumah. 

Melalui masyrabeah seorang gadis bisa dengan leluasa memandang pemuda pujaan yang sedang bercengkrama dengan kakak lelakinya di ruang tamu tanpa harus ketahuan oleh yang sedang dipandang. 

Masyrabeah ternyata juga sangat efektif mengatur sirkulasi udara di dalam rumah, dengan tanpa membiarkan isi rumah dilihat tetangga karena jendela terbuka.

Dan masih banyak lagi manfaat dari jendela “masyrabeah” ini, apalagi kalau dipasang di rumah-rumah sederhana di lereng gunung hijau nan terjal di negeri bak surga, Indonesia… dari balik masyrabeah pasti akan tampak indahnya air gemercik yang mengalir di sungai-sungai kecil sekitar rumah. 

Dari balik masyrabeah dapat disaksikan hewan-hewan jinak yang sedang bercanda dengan sesamanya tanpa takut diintai sosok tak terlihat di sana…. Dan dari balik masyrabeah seseorang bisa menjadi saksi segalanya tanpa harus menampakkan dirinya…..Masyrabeah memang jendela cantik serba guna(*)

Sumber artikel: https://www.facebook.com/100010612635324/posts/983455518684860/
LihatTutupKomentar