-->

Catatan Nasehat Kiyai Hasan Abdullah Sahal


Catatan Nasehat Kyai Hasan Abdullah Sahal

By Oky Rachmatulloh

Nasehat KH Hasan Abd Sahal :
  1. Bermimpilah. Karena Gontor pun meliki cita-cita yang  bunyinya begini “Gontor omahku tegal sawahku, asia halamanku, eropa amerika pelanconganku”  Itu diucapan saat Gontor belum punya apa-apa , belum mendapatkan pengakuan, Tapi sudah bermimpi.
  2. Gontor bukan hanya mengatur kehidupan. Orang kaya, polisi, tentara, pegawai, birokrat, petani, pedagang  amat sangat bisa untuk mengatur kehidupan di pesantren. Tetapi, kami tidak yakin mereka bisa mendidik pesantren. Dengan harta, tahta, senjata, undang-undang, kesejahteraan dan politik, (pesantren) bisa diatur . Tetapi,  belum tentu bisa mendidik. Jadi, pekerjaan kita ini adalah ‘mendidik kehidupan’.
  3. Inilah gontor mendidik. Dan yang mendidik itu terdidik.  Maka, terjadilah  seperti antum (alumni)  cair dengan sedemikian saja, karena di Gontor sudah dibuat melebur latar belakangnya.  Yang gemuk diatur yang kurus, yang kibar diatur yang shigor; yang gemuk, yang kurus, makan 1 piring atau tiga piring, bayarnya sama; anak majikan dihukum anak karyawan; tidak ada yang protes. Karena sudah ‘terdidik’. 
  4. Gontor tidak terpengaruh apa-apa, tidak pak kiayinya, tidak direkturnya, tidak qismul amnnya. Kalau ada anak pejabat yang cabut, silahkan . very good very fine, tidak mau ikut cari yang lain. 
  5. Gontor tidak hanya mengajar  ta’lim al-muta’allim , tapi juga ta’lim al-mu’allim.  Anak-anak bukan hanya dididik untuk menjadi murid yang baik. akan tetapi menjadi  guru yang baik. Liyundziruu qaumahu.
  6. “Ketika ditanya bagaimana mendidik 4000 anak  24 jam, makan, tidur, sholat, olahraga di tempat yang sama?  sytem apa, Mazhab mana,  Pola  pendidikan apa, aliran pendidikan barat atau timur yang dipakai ?” Beliau menjawab ”saya mendidik 4000 karena bisa mendidik 400 , saya bisa mendidik 400 karena bisa mendidik 40. Saya bisa mendidik 40 karena bisa mendidik 4 orang”. Saya berarti pondok.  Gontor itu mendidik 4 orang dengan militansi dan sungguh-sungguh, dengan segala dinamika yang terdidik, akhirnya bisa mendidik 40 orang. 40 yang terdidik disiplin, dinamis, kreatif, aktif , penuh inisiatif,  bisa  mendidik 400 orang. 400 yang terdidik seperti itu pula bisa  mendidik 4000 orang. Maka, mendidik 4000 sama seperti 4 anak. 
  7. Di gontor kehidupan mencair begitu saja. Begitu masuk Gontor, copot baju NU, Muhammadiyah. 
  8. Kita mendidik anak-anak menjadi tuan di negeri sendiri.  penjaga  kopel yang seumuran anak SMA, mereka dididik  memegang duit milyaran . Penjaga kopel, bagian keamanan tetap bayar uang sekolah . Gontor adalah republik kemandirian, bukan republik investor.
  9. Gontor bisa diatur dengan sedemikian rupa bukan karena pak kiyainya, Nabi atau wali; bukan karena saya (pak Hasan), pak Syukri, pak Syamsul.  Tapi karena, al-barakatu fil harokah. 
  10. Memberi contoh yang baik gampang, yang sulit adalah menjadi contoh. Di dunia ini banyak yang  memberi, mengajarkan  dan menunjukkan contoh yang baik tapi sulit menjadi contoh itu sendiri. Lihat  Pak Kiyai, banyak mana tidurnya dengan anak, banyak mana makannya dengan santri.
  11. Trimurti belum pernah menerima mobil dan sebagainya,tapi ketika turun, barulah kami adakan KUK, UKK, apotek dsb. Akhirnya Alhamdulillah kita bisa hidup,menghidupi dan menghidupkan. Bahkan sekarang, Alhamdulillah kita bisa  menjadi tuan di negeri sendiri. Tapi tidak meninggalkan panca jangka , tetap aman, nyaman; sehingga tidak diganggu oleh pihak lain.
  12. Di zaman intervensi, kita tetap menjaga keamanan kita. Aman panca jiwa, aman kemandirian, aman ukhuwah islamiyah . diatas hanya Allah, dibawah hanya tanah. Tidak ada pengaruh NU, Muhammadiyah ; Unesco, PBB tidak bisa berbuat apa-apa di Gontor; legislatif, yudikatif, eksekutif,harta, tahta, senjata, kereta, berita tidak akan mempengaruhi Gontor.  Karena Gontor miliknya umat islam seluruh dunia.
  13. Keunikan pondok gontor  tidak sama dengan rumusan-rumusan pendidikan di luar.  Rumusan pendidikan pondok tidak sama dengan rumusan atau ukuran yang ada di organisasi lain. Contohnya anak seumur itu, meninggalkan orang tua dan rumahnya berbulan  dan sebagainya tidak cocok dengan ilmu jiwa dan kedokteran . Ilmu jiwa  dan  ilmu kedokteran dengan gontor tidak cocok, tapi Gontor berhasil.
  14. Anak kelas satu KMI ketika liburan tidak akan nyambung dengan anak SMP kelas satu. Anak kelas lima KMI tidak nyambung dengan anak kelas dua SMA. Karena mereka tau apa itu hidup, ‘why’ dan ‘what for’nya kehidupan, tapi SMA belum tentu.  Di luar tidak ada organisasi punya inisiatif,  apalagi PG dan DA, tapi di gontor ada.  Di sana ada kebersamaan, keikhlasan, kolaborasi, eskplorasi bakat anak; yang tidak dibayar malah membayar.  Maka inilah ‘barokah’nya ‘harokah’.
  15. Pesantren-pesantren di Indonesia dengan keadaan seperti ini bertambah dan naik meskipun dibilang teroris , radikal, kumuh, kemunduran, tidak bisa cari pekerjaan dsb. Karena tetap Mundzirul qaum sebagai lembaga pendidikan.
  16. Ingat keunikan kita ini .  Mari kita pertahankan  dan kawal terus, karena saya akan menitipkannya ke generasi selanjutnya. Mungkin yang akan datang lebih besar tapi nilai-nilai tidak boleh berubah, bergeser, berganti. Karena (pondok) bukan milik negara, keluarga, partai  dan organisasi , tapi ini milik umat Islam seluruh dunia. Begitulah tercatat dalam piagam, Maka, biarlah Gontor tetap jadi lembaga pendidikan, dan personel-personelnya silahkan menjadi ini itu dan sebagainya, dan kalau bisa menjadi pendidik-pendidik masyarakat sekitarnya.
  17. Setan tidak akan berhenti untuk mengganggu umat Islam, dan pondok pesantren adalah benteng terakhir. Maka pesantren tetaplah dengan kemandirian dan keuletanya selau jalan terus tanpa henti,  survive dan hidup dengan nilai-nilainya. Yang penting adalah nilainya.  Al-Aqlu as-Salim fi Al-Jismi as-Asalim  lembaga akan sehat kalau nilai-nilai atau otaknya sehat.
  18. Kamu jangan pencari pengakuan, ijazah, penghormatan orang lain; kalau kamu tidak terhormat  dan tidak berharga. Kalian bangsa Indonesia harus berprestasi.
  19. Kamu punya jati diri, bina  diri, harga diri, tahu diri akhirnya jaga diri, tahan diri. Maka selamat dunia akhirat. Kebalikannya, tidak punya jati diri, tidak bina diri, tidak tahu diri, ingin unjuk diri.  tidak laku, akhirnya bunuh diri, gantung diri.
  20. Maka kamu tidak perlu cari pengakuan, title dsb. Itu akan datang sendiri. Pengakuan dari Allah lebih tinggi.  Karena Allah telah memberikanmu title Muslim . 
  21. Ada yang fisiknya kuat, otaknya lemah,hatinya juga lemah; Ada yang fisik lemah, otak kuat, hati kuat;  Ada yang berpribadi baik, bersosialisasi tidak baik; Ada yang bersosialisasi baik, berpribadi tidak baik; dan sebagainya. Itu semua dari sana, Qaddarallah. Maka simple saja, Selalu ingat ‘W5H1’. Saya ini apa, siapa, dimana, kemana dan bagaimana; mengapa saya disini, mengapa saya begini. Orang banyak lupa why dan what for; Waktu shalat ya shalat , waktu puasa ya puasa,kapan pacaran ya pacaran, kapan tidur ya tidur, dia lupa kawanya tidur setelah belajar, sedangkan dia tidur setelah tidur juga. Makanya, hasilnya berbeda.
  22. Jangan berusaha memaksakan sesuatu yang kira-kira  tidak layak bagimu, yang kamu tidak bisa dan tidak akan berhasil. Karena itu bukan urusanmu, akan sakit dan menyakitkan, kecewa dan mengecewakan. Halakamru’un lam yandzur wajhahu fil mir’ah. Maka, simple saja. Karena Simple is beautifull.
  23. Di gontor, 24 jam semuanya mempunyai tanggung jawab, kegiatan, kepentingan, dan sesuatu yang berguna bagi dia.
  24. Kenapa Gontor bisa mendapatkan  beasiswa lebih banyak :
  • Sejarah pondok  dengan pondok lain tidak sama.  Gontor sejarahnya 90 tahun dengan suka duka, bentur sana, bentur sini; Gesek sana, gesek sini; bertahun-tahun gontor tidak diakui; bertahun-tahun gontor dengan segala kesulitannya; tidak bisa mengirim ke Al-Azhar terhalang-halang dan sebagainya. Tap ini alhamdullilah semua lancar. Maka, itulah sejarah panjang 90 tahun gontor.
  • Gontor punya kualitas
  • Gontor menghadapi dunia ini bukan hanya untuk keluarga, daerah, negri, partai, ormas; tapi untuk Umat semuanya manusia.
  • Gontor pandai, cakap,luwes, layak dan berhasil  dalam menerima tamu dan member kesan baik terhadap tamu.

LihatTutupKomentar