-->

SEORANG PENYAIR DAN DUA WANITA

SEORANG PENYAIR DAN DUA WANITA - Cerpen Cinta dari saranacinta

Sebelum meninggalkan kota , wanita matang berpamit pada sahabat kentalnya wanita muda. "Aku mau pergi. Siapa tahu di seminar itu kutemukan si segi empat atau si segi tiga. Kalau-kalau dapat dijadikan pengganti bola".

Karibnya , perempuan berumur tiga puluhan belum lama kecurian bentuk tubuh bulat bundar yang disebut mesra sebagai kekasihnya. Seorang perempuan tak dikenal melibas dari belakang. Mengembat dan menggondol tambatan hati.



Wanita muda malang itu tak dapat berbuat apa-apa. Terpisah oleh jarak jauh tak ada kesempatan baginya untuk mengejar dan merampas balik pujaannya. Dengan sakit tusukan begitu dalam ia tak hanya meneteskan air mata. Tapi juga darah dan nanah.

Berminggu-minggu wanita matang amat telaten merawat luka kawannya . Hampir tiap hari ia menyisihkan waktu bertemu. Menyeka air matanya , membasuh lubang menganga sambil pula melumurinya dengan kata hiburan sarat sayang dan kasih.

Sebagai wanita cukup berumur dan telah menapak jalan kehidupan lebih panjang ia paham bagaimana pedihnya menjadi yang tersisih dan pecundang.

Ia ingin melakukan segala sesuatu bagi sobatnya demi supaya luka itu cepat menutup dan pulih seperti sediakala.

Ia tiba di tempat tujuan pada jam lebih lambat dari yang ditentukan. Acara telah dimulai. Kata sambutan. Pertunjukan musik selingan. Lalu tampil pembicara pertama. Adalah sebuah kejutan tak terbayangkan sebelumnya. Wanita setengah umur yang selama ini selalu merasa dirinya sebongkah batu karang tiba-tiba mengalami degup aneh dari dalam . Persis pada saat telinganya menangkap aung membahana maskulin yang sedang membacakan makalah di atas podium.

Amboi , betapa machonya laki-laki ini , gumamnya dalam hati. Sepasang matanya hampir tak berkedip mengawasi sosok kekar , berambut panjang, bercambang kasar tapi punya pita suara serak-serak basah Broery Marantika.

Caranya membacakan buah pikirnya begitu mantap, tegas , penuh yakin bahwa yang diutarakan itu memiliki esensi berharga buat diperdebatkan. " Di manakah para makhluk aneh yang bernama kritikus sastra ini? Di manakah mereka bersembunyi? Ataukah mereka memang tak pernah ada? " Pembacaan makalah itu diakhiri ratapan galau penyair yang seakan merindukan juga sajak-sajaknya mendapat pengamatan dan lebih banyak kritik . Agar ia tercambuk untuk menghasilkan karya lebih baik.

Ya, memang masuk akal hasrat dan kerisauannya. Mungkinkah jagat raya sastra Indonesia akan mampu memuai terus, tanpa kehadiran pakar-pakar tanggap, berkeahlian menilai kualitas tulisan-tulisan yang diterbitkan?

Seorang perempuan juita dapatkah berdandan tanpa menggunakan kaca ?

Seminar menjadi hangat dan riuh. Secara bergiliran beberapa peserta mengacungkan tangan mengumandangkan pendapat. Sedangkan penyair begitu piawainya melakukan jurus-jurus umpan balik sehingga hadirin terintrik mengikuti topik. Suasana menjadi semakin marak dan asyik.

Dari kejauhan wanita matang itu hanya dapat mengawasi sosok penyair dengan sorot mata penuh kekaguman. Namun ia tak berniat mendekat ataupun menyapa . Ia miliki kejumawaan perempuan yang tak berkehendak melakukan perkenalan terhadap lawan jenis dengan unsur kesengajaan.

Tak terduga pada acara rehat siang. Kesempatan berkenalan menggelinding bagai sebuah bola tertendang masuk kaki takdir. Selesai menyantap hidangan yang disuguhkan oleh panitia ia menjadi haus . Ia menginginkan sesuatu sejuk guna membasahi kerongkongannya. Ia beranjak ke tenda penjual minuman. Memesan sebotol Fanta dingin. Sekilas ia menampak bayangan orang yang telah menarik perhatiannya. Betul-betul nyentrik. Rambutnya dikuncir mirip laki-laki Cina dari zaman kuno. Kumis dan jenggotnya dibiarkan subur tanpa mau kenal pisau cukur.Pakaiannya berupa sepotong celana warna krem sebatas lutut yang memiliki banyak kantong dikombinasi T Shirt hitam polos.Alas kaki yang dikenakan mirip-mirip sepatu nabi. Dia sedang asyik melahap nasi bungkus dengan jari-jari telanjang.

Wanita matang mengambil tempat duduk berhadapan sambil mengucap permisi sebagai basa-basi. .Penyair itu segera mempersilakannya. Volume suaranya memang terdengar begitu khas , berat , tapi masih membersitkan ramah. "Darimana Mbak ? Sendirian saja ?" Wanita itu mengangguk. Ia tak dapat menyangkal desiran hangat kembali menjalari aliran darahnya .Wow , suara itu, suara itu seakan memiliki daya magis bagi telinganya. Ia tekan buncah hatinya. Lalu diupayakan memasang wajah santun di hadapan orang yang baru dikenalnya.

Tak berapa lama keduanya terlibat percakapan. Penyair itu tertawa lebar ketika wanita itu memuji keberaniannya untuk hidup sebagai seniman. Apalagi seniman yang pekerjaannya cuma menyusun aksara dan kata. " Bagaimana Anda bisa bertahan hidup ? " Tanya wanita itu dengan rasa ingin tahu. "Kenapa tidak ? Cetus penyair mantap . Seniman adalah penganggur profesional yang mau dan mampu menahan lapar demi kelahiran dan kesuburan karya-karyanya". Wanita itu merasa semakin kagum.Ini adalah pengalamannya pertama berjumpa dengan penulis secara tubuh dan daging. Sebelumnya ia cuma dapat menggapai roh mereka dalam media cetak saja. Wanita itu seorang kutu buku.Pemerhati sastra. Namun juga memendam angan pada suatu hari bisa menjadi seorang penulis juga. Beberapa karyanya memang pernah dimuat di beberapa majalah dan koran lokal. Tetapi ia melakukan hanya sebagai hobi selingan. Karena waktunya lebih banyak tercurah dalam dunia usaha.

Wanita itu terkesan dengan cara penyair menjawab pertanyaan-pertanyaannya . Tak terasa nada bicaranya semakin hangat dan lincah. Pada saat itu telepon genggamnya berbunyi , ia segera meraih benda itu dari dalam tasnya dan ditempelkan ke telinga.

"Hallo .... eh ..engkau toh. Ada apa ?" Tukasnya setelah mengetahui bahwa yang berada di seberang sana adalah sahabatnya. "Cepet pulang ya jangan lama-lama , aku nanti nangis lagi kalau ditinggal terlalu lama" Ia tergelak kecil mendengar suara manja kawannya. "Ah..jangan gitu dong katanya mau dicarikan ganti . Aku kini sedang pilih-pilih lho.. Eh ..kau mau kenal ? Ini orangnya sedang ada di depanku . " Tanpa berpikir panjang telepon mungil itu disodorkan kepada sang penyair , ia memberi isyarat agar pria itu mau berbicara. Ternyata dia mau. Namun tak disangkah penyair itu hanya menukas satu untai kalimat.

" Well , kalau kau mau jadi yang baru "

Telepon segera dikembalikan padanya lagi. Wanita itu menjadi penasaran. Kemudian mendesak sahabatnya. "Hai... kau bilang apa sama dia ?" Sayup-sayup ia mendengar gelak kawannya . "He..he..aku cuma tanya sama dia begini : -Apa kau sedang cari mangsa ?- "Busyet kau ! Orang baru kenal kok nanyanya begitu ".Cetusnya mencela spontan.

Ketika telepon telah ditutup, tergesa dan terbata ia minta maaf kepada pria di hadapannya. Tapi sama sekali tak ada tanda ketersinggungan pada wajah sang penyair. Ia nampak cuek-cuek saja..Malah ditenggaknya bir yang tersisa dalam gelasnya dengan paras sumringah.

Wanita itu menyambung percakapannya dengan menceriterakan ikhwal sahabatnya. " Ia mengenal laki-laki itu dari layar maya. Sebuah situs jodoh terkenal dari Amerika. Seorang dokter berusia tiga puluh enam tahun yang bekerja pada organisasi kemanusiaan dunia dan sedang ditempatkan di Dili. Mengaku bujangan juga kesepian.

Tugasnya di daerah amat terpencil. Melalui komunikasi cyber, keduanya menjadi akrab.Telah beberapa kali laki-laki itu muncul menemui langsung. Dengan cepat mereka mendeklarasikan diri menjadi sepasang kekasih.Namun pada kenyataan akhir dokter Bangla itu memilih kumpul kebo dengan koleganya sendiri daripada serius dengan temanku. Celakanya sebetulnya dia sudah berkeluarga.

Padahal temanku terlanjur cinta sampai ke sumsum tulang. Ia shok berat,merasa telah jadi korban buaya darat.Padahal aku sih sudah memperingatkannya bermawas diri.Dalam bahasa tekstil, karena kebetulan aku pengusaha busana. - Kalau diberi orang lembar kain ,.ukur dulu meterannya Apakah cukup dibuat long dress, gaun pendek, blus atau ternyata cuma selembar sapu tangan saja-

" Penyair itu tergelak mendengar perumpamaan demikian . Mesti sesinis itukah perasaan laki-laki ditolok ukur? Wanita itu menengok arlojinya . Ia merasa harus meninggalkan tempat itu karena tugas-tugas masih berderet menunggu di kantor. Namun tentu saja tak ingin ia pergi tanpa keyakinan dapat bertemu lagi dengan sosok karismatik seperti itu.

Ia membuka tas , menjumput selembar kartu namanya laludisodorkan pada penyair. " Datanglah . Mampirlah ke kantor saya. Akan kuperkenalkan dengan teman gadisku. Jadilah tamuku , kusediakan akomodasi . Lantas kalau mau pulang dengan pesawat saya bisa jadi sponsornya ".

Ketercengangan berpijar sekejap dalam bola mata sang penyair. Mengapa ada orang baru dikenal mau memberi tawaran begitu spontan dan manis ? Tentu saja.., tak harus ditolaknya, daripada ia mesti menumpang bus dengan waktu perjalanan sehari semalam. Kartu nama itu diterima sopan bersamaan janji memenuhi undangan. Kemudian penyair itu balas memberitahukan nomor telepon genggamnya pada nyonya yang terkesan berada, hangat, pemurah tapi bukan tak mungkin mendekap sepi dalam hatinya . "Ya...Tuhan.... Orang macam apa yang telah kau gondol ke sini..." Bisik wanita muda dengan nada lirih tatkala sahabatnya datang bersama seorang laki-laki bertubuh gempal , rambut berkuncir , lusuh dan bercambang menyeramkan. "Hush .. kau jangan sembarangan menghina. Dia itu penyair tahu? Tampang boleh kasar tapi hatinya selembut tepung terigu.Plus masih tulen lajang ." "Lantas buat apa kau bawa ia kemari ?" Wanita muda agak memberungut." Ha..ha.., kau perlu temu dengan lebih banyak laki-laki sayang.Supaya lukamu cepat sembuh". "Tapi bawa dong..yang lebih cakep jangan kayak Kumbakarna gitu." Di balik pintu dua wanita bercekikikan. Penyair tidak mendengar apa yang mereka perbincangkan. Ia sedang terbengong mengawasi suasana sekitarnya. Tempat bagi kaum berduit berlari-lari, mengangkat beban, mengucurkan peluh tapi justru masih harus membayar. Sesudah itu mereka bisa mandi uap , sauna, mencebur ke kolam jaccuzi atau minta dipijat dengan tangan-tangan halus terlatih bersama luluran wangi penyegar indra sukma.

Penyair tak dapat membayangkan berapa puluh puisi, berapa ratus sajak harus ia ciptakan supaya dengan honornya dapat digunakan menikmati fasilitas spa di hotel kelas satu seperti itu. Rona wajahnya menyemburatkan kegamangan , tak heran jika ia nampak tak kerasan dan ingin segera angkat kaki dari situ.

Wanita matang mentraktir mereka ke sebuah restoran yang disemarakkan kehadiran beberapa pemain band. Sambil makan malam mereka bersama-sama mendengarkan aneka lagu Latin berirama menggembirakan. Raut wanita muda sudah terlihat cerah. Ia mulai berdendang dan ikut bernyanyi-nyanyi kecil. Suaranya merdu.

Tak terduga telepon selulernya berbunyi , wanita muda itu segera bangkit mencari tempat yang lebih lengang Tak berapa lama ia terlihat asyik berbicara dan tertawa-tawa. " Hei., ternyata patah hatinya tidak separah itu bukan ?" Bisik penyair kepada wanita matang seraya sepasang matanya mengawasi si wanita muda dari kejauhan. " Ya., untunglah dia sudah bisa mulai tertawa lagi. Yang diajak canda itu khan juga teman cowokku ". " Ha ..maksudmu kau bagi lelakimu padanya ?" Celetuk penyair. "Sontoloyo mbok ya kalau ngomong dipikir dulu. Itu temen di layar maya. Ketemu aja belon. Denger suara juga tidak. Tapi kukenalin padanya .Nampaknya cocok. Syukur kalau jadi beneran."

Penyair nyengir. Ia meneguk lahap isi gelas bir. Sudah lima botol dihabiskannya.

Selesai santap malam ketiganya menuju ke lokasi penginapan. Wanita matang , sesuai dengan janjinya, sudah membooking lebih dahulu tempat bermalam untuk tamunya. Sebuah hotel yang memiliki vila-vila seluas satu unit rumah. Lengkap dengan dapur moderen dan peralatannya. Ia senang membuat penyair tercengang. Sewaktu mereka semua duduk santai dalam ruang tamu yang begitu nyaman , keluarlah percik humornya. "Bagaimana rasanya menjadi pria yang dibawa oleh dua wanita ke dalam hotel?" "Oh..,No Problem"Jawab penyair enteng. "Apa yang bakal terjadi? " " Ya..apa yang bakal terjadi aku juga menanti cemas" Ujar penyair berseloroh.

Wanita muda menimbrung. "Yang pasti jika laki-laki membawa wanita ke hotel itu dengan maksud ditiduri. Sedangkan jika perempuan yang bawa pria gunanya ditidurkan." " Dan bedanya lagi sela penyair. Kalau ditiduri itu bisa berkali-kali. Sedangkan ditidurkan cuma sekali." Mereka tertawa berbarengan memecah kesunyian malam.

Penyair semakin bersemangat menuang bir ke dalam gelas lagi. Dalam waktu singkat dua botol telah menjadi kosong di hadapannya. Percakapan menjadi sangat hidup. Sambung- menyambung , diseling senda gurau dan tawa. Sementara malam menjadi kian larut wanita muda tak lagi dapat menahan rasa kantuk. Ia menguap, berpamit tidur kemudian beranjak masuk ke kamarnya lebih dahulu.

Tinggallah wanita matang dan penyair berduaan di ruangan itu. Berbincang tentang latar dan pikiran masing-masing. Wanita matang masih penasaran mengapa ada orang bisa begitu mengecilkan arti keaktifan-keaktifan yang menjadi sumber penghidupan. Penyair mengaku tidak punya pekerjaan tetap. Karena ia menolak terikat oleh tetek bengek kewajiban tetap. Ia mau merdeka. Punya waktu lebih banyak buat membaca. Menulis puisi-puisi.

Walau konsekuensinya ia harus kurang duit atau lapar. "Bagaimana kau bisa menulis jika lambungmu kosong? Bagaimana inspirasi datang jika perut keroncongan? Sergah wanita itu tandas-tandas. Penyair menyeringai. "Belum kau pernah baca sajak Putu Wijaya ?".Wanita itu menggeleng. Dengan suara bariton , penyair Kumbakarna berdeklamasi . "Dengan perut lapar orang sudah membuat revolusi. Dengan perut lapar orang sudah mewujudkan mimpi. Dengan perut lapar orang menelorkan prestasi.Dengan perut lapar orang tak pernah berhenti mencari. Ada yang bilang hidup dalam tekanan membuat usia panjang, Hidup dalam tekanan membuat akal merentang. Hidup dalam tekanan membuat jiwa tumbuh dan berkembang.Hidup dalam tekanan orang baru bisa merasakan apa itu senang."

Wanita matang tepekur. Mencoba mencerna makna sajak Begawan Sastra. Sementara ia makin kagum saja pada penyair.Di balik tampang liar dan kedoyanan pada bir,disimpannya otak komputer yang sanggup mememorikan apa saja yang pernah dibaca.

Malam makin merangkak dalam. Jarum jam di dinding terus-menerus bergerak. Penyair tetap giat menuangi kerongkongannya dengan cairan kuning busa. Entah suasana. Entah wanita matang masih punya sisa kejelitaan akhir.Atau bisa saja penyair sudah menjadi sangat mabuk setelah berbotol-botol bir dihirupnya.

Tiba-tiba ia beringsut mendekat. Tangan wanita paruh baya itu disentuh. Dibelai lembut sambil diiringi rayuan gombalnya. "Tak selayaknya kau menyebut-nyebut dirimu tua. Kau masih cantik. Kau nampak muda. Aku lebih memilih dirimu daripada temanmu ".

Lidah wanita tiba-tiba jadi kelu Sekujur tubuhnya seperti teraliri hawa panas. Memerahkan rona wajahnya. Kemudian ada gelombang pasang di dalam membuat jantungnya jadi berdebar-debar dengan denyut tak beraturan. Ketika penyair itu berupaya menciumnya ia coba menepis. Namun yang terjadi akhirnya ."Oh... Jangan...Jangan ..Lakukan..Oh Jangan...Jangan.." "Oh..Oh..Jangan Deh.." "Oh...Oh... Oh ...Jangan." "Oh..Oh...Oh .. Ohhh..." Sekonyong-konyong listrik padam . Ruangan menjadi gulita.

Wanita matang sama sekali tidak bercerita apa-apa kepada karibnya . Walaupun mereka adalah sahabat begitu erat tapi tentunya adakalanya ia ingin menyimpan kejadian-kejadian tertentu buat dirinya saja. Sesungguhnya ia berniat bungkam kalau saja pada malam esoknya sobatnya tidak menunjukkan sesuatu padanya sambil cekikik ria. Dalam jendela kecil ponsel temannya ada seuntai kalimat dengan nama pengirim yang telah dikenal mereka.

Mengapa kemarin kau begitu cepat tidur sayang? Padahal aku naksir sekali padamu. Wanita matang segera paham apa yang mesti dilakukan.Direbutnya ponsel temannya. Ia langsung memijat tombol dan mengetik berita. Oh..ya? Aku juga begitu.. Sampai pengen sekali taruh seekor kutu cantik di sela rambutmu.
- Mau nggak jadi pacarku ?
+ Oh ..tentu saja asal kau mau push-up 1000 kali dan mengepel lantai rumahku
- Buruan dong kalau memang mau. Ntar bakal keduluan oleh cewek lain, nyesel deh!
+ Huahaha ,andai nyamuk jadi kupu, kucing jadi harimau, cicak jadi buaya dan orang utan jadi kamu... pantaslah kalau kau ngomong begitu..

Wanita matang mengerahkan segenap kepiawaiannya menguntai kata. Setiap jawaban masuk dibaca berdua. Lantas mereka berhahahihi bersama. Tentu saja wanita matang tidak lagi merasa perlu menyembunyikan sesuatu lebih lama lagi kepada temannya.Setelah curhat dia merasa plong.

Ia juga cukup bijaksana untuk tidak mempermasalahkan soal ini.Ia masih tetap memenuhi janji membelikan tiket pesawat terbang bagi penyair yang mau pulang bahkan dengan segenap kebesaran jiwa laki-laki itu diantarkannya ke lapangan udara. Hanya ia tidak dapat berpura-pura untuk bisa membuat raut wajahnya ceria .

Dalam perjalanan ke bandara ia lebih banyak diam seraya memasang warna mendung di parasnya. Penyair masih coba berlaku manis . Memberinya kenangan sebuah buku berisi karya-karyanya kemudian membubuhinya dengan kalimat bahasa Inggris "Thank You For Every thing. You Are A Wonderful Person. I Iove You!" Sebelum berpisah sang penyair menghadiahi ciuman hangat .

Wanita matang tetap kaku dan tak bergeming. Tetapi sesungguhnya ia bukanlah sebongkah batu. Ia masih rentan serta mengalami haru biru tatkala mengetahui ternyata penyair tetap nekat mengirim kata mesra manis yang persis sama kepada dia dan karibnya melalui ponsel-ponsel mereka. Sulit memastikan mana yang asli mana yang copy-annya.

Maka kewanitaannya memberontak. Melalui SMS ia protes. Ia nyatakan kepedihannya seperti sebaris haTiku.
-Ah.., impian kandas .. Dalam pencarian laki-laki berintegritas. Penyair jadi tersinggung. Lalu menyalak.
+ Seenak itu kau mau menilai orang? Wanita matang jadi naik pitam.
- Lantas siapakah yang berikrar pada malam itu ? Bir atau kamu? Penyair seperti gelagapan. Tapi masih coba menangkis.Bahkan menantang.
+ Aku kan cuma mau melakukan kebaikan kecil saja. Bukankah kau sendiri yang bilang temanmu perlu ditolong ? So what ..? Whats wrong ?
Wanita jadi terkesiap. Hampir kehilangan akal untuk menjawab. Untunglah daya pikirnya masih bisa digenjot.
- Tidak ada yang salah tapi aku boleh menilai saja. Ternyata kau ini laki-laki berbumbu lezat yang layak dikloning dan dibagi pada wanita-wanita sepi hilang kekasih.

Penyair membisu . Komunikasi seluler putus. Senyap. Sedangkan wanita pun tak berupaya mengontak lagi. Tetapi hal ini tidak membuat dirinya murung dan cabar hati. Seperti biasa secara berkala ia masih mengadakan pertemuan dengan sahabatnya. Mereka tetap rukun-rukun dan tak pernah beranggapan jadi pesaing kepada satu sama lain. Sosok penyair telah jadi bubuk pengering bagi luka yang basah. Maka wanita muda tak lagi berdarah-darah dan bernanah-nanah.

Horas!

*** *** *** Cerpen Cinta Dari : saranacinta

#cerpenpendidikan
#contohcerpenterbaik
#cerpenromantis
#contohcerpensekolah
#contohcerpenpanjang
#cerpenlucu
#cerpenremaja
#kumpulancerpensingkatdanmenarik
LihatTutupKomentar